Pages

About

Join us on Facebook

Kamis, 16 Februari 2017

Fardu Wudu Menurut Lima Madzhab. Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Hanbali,Imam Maliki dan Imam Ja'far




الســــــلام عليــكم ورحمة الله وبركاته


Semoga di hari yang masih mendung ini, hati teman-teman tidak ikut ikutan mendung ya…
Hari ke tiga, dan post yang ketiga pula di blog sekolahagamaonline, blog milik Madrasah Al-Ukhuwwah Cianjur. Pada hari ini izinkan saya untuk membahas wudu fikhiyah (menurut pandangan fikih).
Perlu sobat ketahui, Islam memiliki banyak pemikir dalam bidang fiqh, itulah mengapa banyak sekali perbedaan pandangan dalam hal fiqhiyyah salah satu diantaranya adalah masalah ubudiyah (tata cara beribadah), namun untuk saat ini saya hanya mebhasa wudu menuirut 5 orang pemikir saja, soalnya kebanyakan kalau saya membahas wudu menurut semua pemikir fiqh, 5 aja udah kebanyakan, hehehehe. 5 orang pemikir tersebut adalah Imam Muhammad bin Idris (Imam Syafi’I), Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali), Nu’man bin Tsabit (Imam Hanafi), Imam Malik bin Anas (Imam Maliki) dan ja’far bin Muhammad (Imam Ja’far ash-sodiq), empat Imam yang saya sebut di awal bisa dikategorikan masuk kedalam Ahli Sunnah wal Jama’ah (Sunni) dan satu imam terakhir masuk kedalam madzhab Syi’ah.
Sebelum saya menuliskan tentang wudu menurut 5 Imam besar tersebut, ada baiknya kita mengetahui dasar tentang kemengapahan kita berwudu. Sebenarnya fardu wudu yang tertera dalam al-Qur’an hanya 4 saja, yaitu, membasuh wajah, membasuh tangan sampai siku, mengusap rambut dan membasuh/mengusap kaki, Cuma itu saja, nah perbedaan baru muncul ketika para Imam menafsirkan ayat tersebut. Bunyi ayatnya seperti ini :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (QS. Al-Maidah ayat 6)

Seperti yang kita ketahui, khususnya bagi yang mengiblat kepada pemikiran Imam Syafi’i, fardu wudu itu ada enam :
1.      Niat
2.      Membasuh wajah
3.      Membasuh tangan sampai siku
4.      Mengusap rambut
5.      Membasuh kaki sampai mata kaki
6.      Tertib.

Jika lebih diteliti lagi, Imam syafii menambahkan 2 rukun kedalam fardu wudu dalam madzhabnya yaitu niat dan tertib, bagaimana bisa demikian?, padahal yang tertera dalam al-Quran hanya 4 saja. Imam Syafii berpendapat bahwa niat itu penting namun tidak dengan membacanya dengan mulut, cukup dengan membacanya dalam hati saja. Pendapat beliau tentang perlunya niat dalam hal ibadah bersandar pada hadits nabi yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatab yang berbunyi :
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .) رواه إماما المحدثين (
Artinya : Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka dia akan mendapatkannya. (diriwayatkan oleh dua imam hadits, Bukhari dan Muslim)
Dan untuk tertib, tertib berarti mendahulukan yang seharusnya didahulukan dan mengakhirkan yang seharusnya terakhir, jadi wudu seharusnya dilakukan secara berurutan sesuai dengan nash (firman) yang diturunkan oleh Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 6 tersebut.
Menurut keterangan yang sudah saya sebutkan tersebut, maka jadilah fardu wudu dengan urutan sebagai berikut :
1.        Niat, karena tidak ada amal tanpa niat, maka amalan wudu harus didahului oleh niat, sebelum wudu dilakukan, dan menurut al-Qadhi Abu Syuja Bin Ahmad (salah satu pengikut Madzhab Syafii), niat dilakukan pada saat membasuh wajah. Menurut Imam Nawawi pembacaan niat dilakukan dalam hati, tidak dengan membacanya dengan bibir (talafudz), adapun redaksi niat adalah sebagai berikut
2.        Membasuh wajah
3.        Membasuh tangan hingga siku
4.        Mengusap rambut
5.        Membasuh kaki hingga mata kaki
6.        Tertib, dilakukan secara berurutan, tidak loncat-loncat, misalnya membasuh tangan dulu baru kemudian membasuh wajah.


Senada dengan pemikiran Imam Syafii, Imam Malik pun memasukan niat sebagai salah satu fardu wudunya, dan menempatkannya di posisi paling awal, beliaupun bersandar pada hadits yang diriwayatkan oleh Amirul Mu’minin tersebut. Ditambah dengan empat fardu yang dituliskan didalam nash. Perbedaan dengan pendapat Imam Syafii baru nampak pada fardu wudu keenam, tidak begitu dengan Imam Malik, beliau berpendapat bahwa fardu wudu yang keenam adalah al-muwalah (berkelanjutan,tidak terputus dengan kegiatan lain) dan menambahkan dalk (menggosok). Jadi bila diurutkan, fardu wudu menurut pemikiran Imam Malik adalah sebagai berikut :
1.             Niat
2.             Membasuh wajah
3.             Membasuh tangan sampai siku
4.             Mengusap rambut
5.             Membasuh kaki sampai mata kaki
6.         Berkelanjutan, tidak terhambat kegiatan berwudu dengan kegiatan lain, misalnya mengobrol dll
7.             Menggosok anggota wudu

Berbeda dengan kedua Imam yang sudah saya bahas barusan, Imam besar selanjutnya tidak memasukan niat sebagai rukun, menurut Ibn Rusyd dalam kitabnya Bidayah al-Mujtahid, perbedaan terjadi karena sebagian ulama berpendapat bahwa wudu itu merupakan ibadah Mahdoh (ibadah yang keterkaitannya langsung dengan Allah) jadi tidak perlu niat, seperti halnya membasuh najis.
Menurut Imam Hambali, fardu wudu ada enam, empat diambil urutannya menurut nash yang difirmankan dalam al-Maidah ayat 6, fardu wudu yang ke lima adalah tertib sepend sependapat dengan Imam Syafii, Imam Hambali pun memasukan Tertib sebagai  fardu wudu dan menempatkan al-muwalah sebagai fardu wudu yang keenam.
Bagaimana dengan Imam hanafi dan Imam ja’far, keduanya berpendapat bahwa fardu wudu yang difirmankan oleh Allah adalah fardu wudu tersebut, so, cukup empat saja, tidak ditambah dengan fardu lain hasil ijtihad para ulama lainnya.
Hal yang berbeda dari Imam Ja’far adalah cara membaca Nash dalam surat Al-maidah ayat enam tersebut beliau membaca ayat tersebut sebagai berikut :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ
Lafadz arjulakum tidak diatafkan ke lafadz aidia, tapi ke lafadz biruusikum, hal inilah yang menjadikan tata cara membasuh kaki antara imam ja’far dengan keempat imam yang lain berbeda. Jika keempat imam membasuh kaki dengan air sampai siku, dikarenakan keempat imam mengathafkan lafadz arjula ke lafadz aidia. Sedangkan Imam Ja’far mengathafkan lafadz tersebut ke lafadz ruusi, jadi caranya tidak dibasuh, tapi hanya diusap saja sampai mata kaki.
Apakah nabi pernah melakukan hal demikian? Tentu saja, hadits yang menjadi dasar pada pendapat Imam Ja’far dapat sobat lihat di kitab Bulugha al-Maram karangan Ibnu Hajar.
Yup, semoga sobat suka dengan tulisan saya yang satu ini, bukan berarti beda adalah salah ya sobat, tapi para Imam memiliki pendapatnya masing-masing, dan sudah barang tentu, pendapat yang dikeluarkan adalah pendapat yang bersandar pada Quran dan Hadits. So jangan pernah menyalahkan satu sama lain ya. Berbeda belum tentu salah.
Saya harap, setelah sobat tahu perbedaan dan apa yang mendasari perbedaan tersebut, sobat menjadi individu yang dapat menghargai setiap perbedaan yang ada di tubuh Islam, toh bukankah perbedaan itu yang membuat Islam menjadi salah satu agama yang toleran kan?
Hentikan takfir dan truth claim yang membabi buta!! Heheheheh.

Untuk lebih jelasnya sobat bisa mengirimkan e-mail ke md.al.ukhuwwah@gmail.com, atau jika ingin berdiskusi silakan comment di bawah ya, insya allah dibalas ko.

Semoga bermanfaat dan hari anda menyenangkan

Salam hangat dari kami.

Selasa, 14 Februari 2017

Mendisiplinkan Anak Tanpa Marah





Selamat siang sobat,
Senang rasanya, sekarang Madrasah Al-Ukhuwwah telah memiliki blog sendiri, jadi rasanya seperti memiliki buku diary Madrasah, lucu ya, Madrasah memiliki buku diary (padahal saya sendiri tidak, hehe). Mau tidak mau kan, sebagai lembaga pendidikan, kita harus berusaha agar upaya mendidik itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ya, bagaimana pun caranya, kita bersama-sama harus melawan kebodohan, agar generasi penerus kita mendapatkan pencerahan pendidikan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Ngomong-ngomong tentang pendidikan, kebetulan sekali hari ini, admin ingin membahas tentang bagaimana cara mendidik anak agar mau berdisiplin diri tanpa harus dipaksa oleh orang tuanya, penulis menyarikan tulisan ini dari beberapa sumber yang dibaca dan juga telah dipraktekannya kepada anak didik di Madrasah Diniyah Al-Ukhuwwah dengan hasil yang baik, karena itulah penulis merasa perlu membagikan pengalaman tersebut kepada para orang tua, khususnya tenaga pendidik yang menginginkan muridnya berdisiplin tanpa harus disuruh.
Mendidik anak tentu bukan perkara yang sangat mudah kan, namun pendidikan pada usia pembentukan sangatlah penting, karena pada masa-masa tersebut anak rentan oleh perilaku-perilaku yang malah ditirunya dari orang yang tidak tepat. Nah poin pertama agar kita dapat mendisiplinkan anak atau murid kita tanpa harus kita suruh, atau lebih jauhnya dimarahi, adalah dengan menjadi contoh yang baik bagi murid atau putra putri kita.
Sosok idola (contoh) merupakan sosok yang mudah sekali mempengaruhi anak secara psikologis, jika sosok tersebut memperlihatkan perilaku disiplin yang baik, maka secara tidak langsung si anak akan menyimpan memori tersebut dan melakukan hal yang sama seperti yang dicontohkan oleh sosok tersebut. Siapakah sosok yang tepat untuk menjadi idola sang anak? Tentu saja, sosok yang paling tepat adalah orang tua, ya andalah sosok yang paling tepat untuk anak-anak anda, karena secara tidak langsung, anda memiliki waktu yang banyak untuk berinteraksi dengan anak anda. Jadi untuk poin pertama keywordnya adalah IDOLA.
Poin selanjutnya adalah membuat komitmen antara anak dan anda, eitss jangan kaget, mungkin anda pikir poin ini terlalu sulit diterapkan kepada anak anda, tapi percayalah, anak kecil sangat ingin diperlakukan layaknya orang dewasa, masih ingatkah anda ketika anda kecil, dan dianggap remeh oleh orang tua anda, apa yang anda rasakan? Nah tepat seperti itulah yang anak anda rasakan jika mereka diperlakukan demikian. Justru di dalam tubuhnya yang kecil terdapat imajinasi yang sangat besar melebihi kita sebagai orang dewasa.




Jangan takut untuk melibatkan anak-anak anda ke dalam sebuh komitmen keluarga, buatlah komitmen diantara anda dan anak anda, tapi ingat jangan sampai anda yang membuat komitmen tersebut, anda pulalah yang melanggar komitmennya. Karena jika terjadi hal yang demikian, kepercayaan anak anda akan hilang sedikit demi sedikit, dan tentu saja, perlu waktu yang agak lama untuk membujuknya agar mau percaya lagi kepada anda. So, keyword untuk poin yang kedua adalah Komitmen dan Kepercayaan
Poin yang ketiga, hargailah setiap kebaikan yang anak anda lakukan, sekecil apapun kebaikan tersebut, patutlah anda hargai, tidak perlu memberikannya hadiah yang mahal atau baju yang bagus, cukup usapan dikepala dan senyuman tulus anda, saya yakin itu akan membuatnya bangga akan pencapaian yang telah dia lakukan. Dan jangan lupa untuk etap memberikan motivasi agar mereka mau melakukan yang lebih baik lagi. Nah bagaimana jika anak anda melakukan kesalahan? Jangan lantas dimarahi, tapi tanyalah dulu alasannya kenapa, kadanag fikiran kita banyak tidak sejalan dengan jalan fikiran anak kita, sehingga kita menganggap prilaku anak kita yang salah, padahal belum tentu kan kita tahu apa yang telah dilalui oleh anak kita, toh kita tidak terus mantengin anak kita setiap detiknya. Berikan dia penjelasan dan arahkan kepada hal yang lebih baik, jangan langsung menghakimi perbuatan salahnya.
Saya sendiri pernah melakukan kesalahan saat menghukum anak didik saya yang dating kesiangan ke Madrasah, waktu itu saya langsung menyuruh dia untuk tetap diluar selama jam pelajaran berlangsung, tanpa bertanya alasan keterlambatannya. Selama 45 menit murid saya berdiri di luar, dan ketika jam pelajaran telah selesai, saya menghampiri dan baru bertanya alasan keterlambatannya. Ini adalah pelajaran yang saya dapat dari anak didik saya, saat itu saya merasa malu, karena alasan dia terlambat karena harus menjaga neneknya yang sedang sakit, saat saya tanya, “memang mamahmu kemana”, “beli obat, jadi saya nunggu dulu mamah pulang, baru bias berangkat ke Madrasah”. Ya tanyalah alasannya, baru anda akan tahu titik tremunya, jangan lakukan kesalahan seperti saya ! hehe. dan keyword untu poin yang satu ini adalah hargailah mereka
Yaap, semoga tulisan saya kali ini bermanfaat untuk anda, tinggalkan komen ya, atau kita bias berkirim e-mail ria melalui md.al.ukhuwwah@gmail.com

Al-zalzalah ayat 7-8
فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ٨
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula


Semoga bermanfaat

Salam hangat

Madrasah Al-Ukhuwwah

Selamat malam sobat,


Ini merupakan pos pertama di blog milik Madrasah Al-Ukhuwwah Panembong-Cianjur, mudah-mudahan anda menyukai dan bisa saling berbagi pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang agama Islam. tentu tidak menutup kemungkinan jika saudara kita yang belum atau tidak beragama Islam ingin juga membagi pengalamannya disini.
Sedikit saya ingin menyampaikan sejarah tentang berdirinya Madrasah Al-Ukhuwwah ini. Madrasah Al-Ukhuwwah didirikan pada tahun 1995, di bawah naungan Yayasan Sosial Al-Ukhuwwah Cianjur. Dikarenakan Madrasah tersebut berdiri di bawah sebuah yayasan sosial, maka sudah pasti, selain madrasah bergerak di bidang pendidikan, Madrasah Al-Ukhuwwah juga bergerak di bidang sosial masyarakat, karena itulah, Madrasah menggratiskan biaya pendidikan selama 6 tahun bagi siswa yang berprestasi dan atau santri yang tidak mampu.
semoga blog yang kami buat ini dapat menjadi ajang bersilaturahmi dan bersilatul'ilmi.

terima kasih.